Bertanya Besok Makan Apa Adalah Bentuk Penghinaan Pada Tuhan. Apa Kalian Sadar Itu??

Baca Juga

The ViralzBeberapa waktu lalu, keluarga kecil kami ‘ambruk’ sampai keuangan benar-benar habis. Saking habis nya, Jiwo makan nasi cuma sama kecap. Pada puncaknya, sambil menangis, saya marah sama Tuhan. Kenapa Dia yang Maha Kaya tega membiarkan anak saya makan cuma sama kecap?

***

Ambruk ini bukan tanpa alasan. Tepat saat pindah rumah, kami kena masalah yang betul-betul di luar perkiraan. Uang harus kami keluarkan sampai angka jutaan rupiah dan kami gak bisa apa-apa selain berusaha ikhlas. Ikhlas melihat rupiah terakhir kami melayang begitu saja tanpa tau kapan dan bagaimana kami bisa mendapat gantinya.

Satu malam, saya memeluk suami demi menghalau rasa lapar. Tinggal pelukan yang kami punya. Saya tanya, besok kita mau makan apa? Satu rupiahpun sudah gak ada.

Suami saya malah senyum. Dia ingat Sujiwo Tedjo, seniman nyeleneh itu pernah bilang “Bertanya besok makan apa adalah bentuk penghinaan pada Tuhan”. Lupa kalimat pastinya, intinya begitu. Trus suami saya nyemprot, kan kamu yang selalu bilang Gusti Maha Kaya. Udah gak punya Gusti sampe takut gak bisa makan gitu?

Atheis Paling Sederhana
Saya diem. Besoknya sambil menatap magic jar, saya nangis. Saya malu banget sama Tuhan. Biarpun gak ada lauknya, biarpun cuma sama kecap, tapi itu magic jar belum pernah kosong. Selalu ada isinya. Saya malu banget karena nyatanya, saya dan keluarga masih makan. Tuhan gak pernah satu haripun lupa mengisi tempat nasi kami, gak pernah satu haripun membiarkan kami kelaparan sampai sakit. Abis nangis saya ngakak, ngapain nangis depan magic jar, mak?


Sorenya, saya bersihin rumah. Inspeksi recehan. Saya kumpulin duit logam yang suka dimainin Jiwo, kembalian-kembalian receh yang suka nyebar di setiap sudut rumah. Saya kumpulin, trus saya ke warung bawa seplastik duit logaman. Dapet setengah batang tempe, 4 butir telur, dan beberapa biji bawang putih.

Tempenya saya bikin sambel bejek, modal cabe boleh metik depan rumah dan bawang putih yang beberapa biji itu. Berasnya boleh ngutang di warung eyang emak (kapan-kapan saya akan cerita tentang beliau, nenek keren, dunia harus kenal!). Jiwo saya dadarkan telur.

Makan malam bertiga. Saya dan suami nasinya dibanyakin biar kenyang, tempenya diirit-irit karena cuma jadi seuprit. Itu sambel tempe paling nikmat dalam hidup saya. Kami makan sambil ketawa-ketawa, ngetawain hidup, sambil merasakan masakan yang penuh rasa bahagia. Makan malam paling mewah, apalagi liat di piringnya Jiwo selain nasi dan kecap, ada telur dadarnya. Alhamdulillah.

***

Setelah hari itu, saya berhenti marah sama Tuhan. Saya terima dengan senang hati anak saya cuma makan sama kecap, gak apa-apa, yang penting masih makan. Toh cuma sampai awal bulan, setelah gajian, kami bisa makan apapun lagi. Bisa beli tempe satu batang penuh, gak perlu separo. Bisa beli bawang putih satu ons, gak lagi beberapa biji. Di atas itu semua, keluarga kami masih utuh dan bahagia apapun makannya. Gak pernah satu kalipun Jiwo protes kenapa di piringnya hanya kecap lagi kecap lagi, dia masih ceria, itu lebih dari cukup.

Kami menjalani hari-hari dengan separuh tawa separuh ngenes, bahagia walau muka harus malu sana sini karena pinjem uang kemana-mana. Mabok ikan cue 2500 dapet 3 ekor, karena setiap hari menunya itu lagi itu lagi. Dengan minyak goreng yang sampai hitam karena itulah minyak terakhir yang kami punya.

Tapi kami hepi, kami jadi lebih banyak bersyukur untuk hal-hal kecil. Cabe depan rumah tumbuh 2 biji aja, kami syukuri banget. Bisa makan pedes lagi, yes. Nemu bawang sebutir di kulkas, rasanya kayak nemu martabak keju susu toblerone. Duit 2ribu perak di kantong celana, kami kumpulkan demi ikan cue yang setiap hari itu. Dan yang jelas, saya jadi gak pernah lagi nanya “Besok makan apa?”. Saya tidak pernah lagi khawatir soal rejeki. Karena saya masih percaya Gusti, dan Gusti saya Maha Kaya. Dia yang belum pernah meninggalkan kami satu haripun.

Sekarang semuanya membaik, Jiwo sudah bisa makan sayur, makan ayam, bahkan foya-foya di warung makan. Tuhan menemani kami melewatinya. Hidup kami sudah berjalan seperti sedia kala. Lebaran qurban kemarin, kami dapat daging sapi satu toples dari ibu. Kami girang banget, seminggu penuh makan daging terus sampai sakit gigi, gak sedikitpun daging itu tersisa. Rasanya terharu masih bisa makan daging, teringat hari-hari dimana jangankan daging, baunya saja kami jauh sekali. Sekarang kami makan kecap, pakai daging. Semur yang sangat sangat sangat nikmat, alhamdulillah.

besok-makan-apa-pa



Sumber: sujiwo.com

.

Bertanya Besok Makan Apa Adalah Bentuk Penghinaan Pada Tuhan. Apa Kalian Sadar Itu??
4/ 5
Oleh