Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makalah ISBD Tentang Cinta Kasih

Makalah isbd

D-viralz.com
| Bagi yang sedang memasuki jenjang perkuliahan, pasti akan belajar mata kuliah ilmu sosial budaya dasar. Karena ia tergolong mata kuliah dasar umum (mkdu) yang harus diambil oleh mahasiswa di semester pertama. Di sini saya akan berbagi contoh makalah ISBD (ilmu  sosial budaya dasar) tentang cinta kasih dalam pandangan islam. makalah ini merupakan karya saya sendiri dulu waktu masih semester satu.

Cinta Kasih Dalam Pandangan Islam

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

          Allah ta’ala menciptakan berbagai makhluk hidup di muka bumi ini, dan diantara makhluk hidup tersebut adalah manusia. Allah menciptakan manusia dibumi sebagai khalifah, pemakmur, penguasa yang melangsungkan kehidupan diatasnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala di surat albaqarah:

"وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ"[1]

“Dan (ingatlah) ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.mereka berkata: “apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui(Qs.al baqarah:30)”.  

          Sebagai khalifah, Allah ta’ala menganugerahkan berbagai kelengkapan didiri manusia. Salah satunya adalah perasaan, baik itu rasa marah, rasa suka atau cinta, rasa iba, dan lain sebagainya. Berkenaan mengenai rasa suka  atau cinta ini, banyak orang yang salah mengartikannya. Sebagai contoh adalah seorang bapak tidak mau menegur anaknya yang berbuat salah dengan alasan rasa cinta, seorang muda mudi bergaul tanpa batas yang mengakibatkan kehamilan dengan alasan rasa cinta atau saling mencintai, dan masih banyak sekali diluar sana mengenai contoh-contoh yang salah dalam penerapan rasa cinta tersebut. Maka di makalah ini pemakalah akan membahas mengenai cinta dan apa-apa yang berkaitan dengannya.

1.2 Rumusan masalah

1.    Apa pengertian cinta kasih?

2.    Bagaimana pandangan islam tentang cinta?


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENGERTIAN CINTA KASIH

Menurut kamus bahasa Indonesia cinta adalah “suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); ingin sekali; berharap sekali[2]. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang (cinta, suka kpd)[3]. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

Menurut jalaludin rumi, cinta adalah sumber segala sesuatu. Dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah inti dari segala bentuk kehidupan di dunia[4].Menurut ibnul qayyim al-jauziah, cinta adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih[5]. Menurut hamka, cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji[6].

Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya, dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata. Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.

Dalam bukunya seni mencinta, Erich Fromm menyebutkan, bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima. Dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan. Pada pengasuhan contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang ibu pada anaknya, bagaimana seorang ibu dengan rasa cinta kasihnya mangasuh anaknya dengan sepenuh hati. Sedang dengan tanggung jawab dalam arti benar adalah sesuatu tindakan yang sama sekali suka rela yang dalam kasus hubungan ibu dan anak bayinya menunjukkan penyelenggaraan atas hubungan fisik. Unsur yang ketiga adalah perhatian yang berarti memperhatikan bahwa pribadi lain itu hendaknya berkembang dan membuka diri sebagaimana adanya. Yang ke empat adalah pengenalan yang merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia. Dengan ke empat unsur tersebut, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan, suatu cinta dapat dibina secara lebih baik.[7]

2.2 PANDANGAN ISLAM TENTANG CINTA

Islam adalah agama yang sempurna, berfungsi sebagai petunjuk atau aturan hidup bagi manusia. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ[8]

“Dan telah kami turunkan kepadamu sebuah kitab sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan berita gembira bagi kaum muslimin.(Qs.annahl:89)”

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ[9]

“Tidaklah ada yang kami lewatkan dalam kitab ini sedikitpun......(Qs.al an’am:38)”

Telah diketahui bahwa berbicara tentang islam berarti berbicara tentang al Qur’an dan sunnah(hadits rasulullah), karena semua perkara didalam islam berpuatar diatas al Qur’an dan sunnah. Kita bisa menilai kesempurnaan islam dengan cara menggali kandungan al Qur’an dan sunnah. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran dan aturan-aturan yang komplit bagi manusia di dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini. Mencakup hal-hal yang sepele, seperti adab masuk rumah, adab masuk wc, sampai hal-hal yang besar, seperti pemerintahan, dan lain sebagainya. Sebagaimana rasulullah juga bersabda:

"مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْـئًا مِمَّا نَـهَاكُمُ اللهُ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ"[10]

 “Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari perintah-perintah Allah kepada kalian, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Begitu pula tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari larangan-larangan Allah kepada kalian melainkan telah aku larang kalian darinya(HR.imam asy-Syafi’i)”.

عَنْ سَلْمَانَ، قَالَ: قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ [11]

“Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya!’(HR.muslim)”.

Begitu juga masalah cinta, tentu Allah ta’ala telah menerangkan aturan-aturan ataupun petunjuk-petunjuk mengenai hal itu. Secara garis besar cinta bisa di bagi menjadi 2, cinta yang yang diridhai Allah ta’ala dan cinta yang dimurkai Allah ta’ala.

1.    Cinta yang diridhai Allah ta’ala

Cinta yang diridhai Allah ta’ala adalah segala cinta yang selaras dengan ajaran agama islam ataupun yang dianjurkan oleh agama dan tidak bertentangan dengannya. Sebagai contohnya adalah:

a.      Cinta kepada Allah

Cinta kepada Allah Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja. tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ[12]

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.(Qs.Ali Imran:31)

Didalam ayat tersebut, Allah ta’ala mengikat kecintaan kepada-Nya dengan kecintaan kepada rasul-Nya muhammad sallallahu alaihi wasallam, yang mana dengan pengikatan tersebut Allah ta’ala memuliakan nabi muhammad sallallahu alaihi wasallam. Begitu juga Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua mahluk Allah dan seluruh alam semesta.

b.    Cinta kepada Rasul

Cinta kepada rasul, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.

Seorang mukmin yang benar-benar beriman dengan sepenuh hati akan mencintai Rasulullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar di seluruh penjuru dunia, dan membawa kemanusiaan dari kekelaman kesesatan menuju cahaya petunjuk. Dan tidak akan sempurna keimanannya sampai ia benar-benar mencintainya, Sebagaimana rasulullah bersabda:

فوالذي نفسي بيده، لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده [13]

“Salah seorang diantara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, bahkan seluruh manusia(HR.bukhari)”.

Begitu juga Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ[14]

“Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak,saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik(Qs.at-taubah:24).”

c.     Cinta kepada sesama muslim

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah mensyari’atkan bagi  kaum Mukminin untuk saling mencintai. Oleh karena itu, seorang Mukmin harus mencintai saudaranya sesama Mukmin dengan tulus dari dalam hatinya. Karena hati-hati mereka sama-sama mencintai Allâh, mencintai Rasul-Nya, dan tunduk pasrah kepada-Nya dengan mengikuti agama Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ[15]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebagian yang lain.(Qs.at-Taubah:71)”

Karena seorang Mukmin mencintai saudaranya sesama Mukmin, maka dia akan menolongnya dan membela kehormatannya. Dia tidak rela saudaranya dihinakan atau direndahkan. Jika saudaranya dihinakan, dia akan tampil membelanya, karena ini merupakan konsekwensi kecintaan.

Seorang Mukmin tidak akan menuduh Mukmin lainnya dengan tuduhan palsu, apalagi tuduhan itu dengan sebab kekeliruan saudaranya. Karena kecintaan itu akan mendorongnya untuk memberikan nasehat kepada saudaranya, dia ingin saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dia menginginkan kebaikan itu untuk dirinya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[16]

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri(HR. Bukhâri)”.

Semua orang itu sering atau pernah melakukan kesalahan. Disebutkan dalam sebuah hadits :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ[17]

“Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua anak cucu Adam sering berbuat salah dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat.(HR.Tirmidzi:).

Jika seorang Mukmin terjatuh dalam kesalahan, maka sepantasnya Mukmin lainnya berusaha memberinya nasehat, karena sesungguhnya hati manusia itu suka dan mudah menerima nasehat yang tulus dari hati. Tidak sebaliknya, membeberkan kesalahan tersebut di kalangan umum atau menumpahkan kekesalan. Di saat itulah keimanan yang ada di kalangan kaum Mukmin menjadi pengikat yang kuat, mereka akan saling melindungi dan menolong.

Sebagian orang yang lemah imannya, jika mendengar saudaranya terjatuh dalam kebatilan atau kesalahan, mereka menyebarkannya dan menyangka itu merupakan bentuk nasehat (ketulusan; pembelaan). Padahal, sejatinya itu bertentangan dengan konsekwensi keimanan dan konsekwensi kecintaan sesama kaum Mukminin. Ini jika yang mereka sebutkan itu benar. Lalu bagaimana jika yang dia sebutkan itu tidak benar? Bagaimana jika yang dia sebutkan itu dusta lalu disebarkan oleh banyak orang tanpa memperdulikan kehormatan saudara-saudara mereka sesama Mukmin ?! Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا[18]

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al-Ahzâb:58)”.

Dalam ayat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang menyakiti kaum Mukminin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Termasuk dalam hal ini adalah menuduh dan menyebarkan berita dusta. Karena mereka hanya mendengar berita buruk, lalu disebar dan diulang-ulang. Mereka tidak memiliki bukti kongkrit. Oleh karena itu, mereka memikul dosa yang nyata, perbuatan maksiat yang nyata. Pelakunya tidak mendapatkan pahala, bahkan dia memikul dosa dan keburukan di dunia dan akhirat.

2.    Cinta yang dimurkai Allah ta’ala

Setelah kita berbicara mengenai cinta yang diridhai Allah ta’ala, maka selanjutnya kita akan membicarakan mengenai cinta yang dimurkai Allah ta’ala. Cinta yang dimurkai Allah ta’ala adalah segala cinta yang bertolak belakang dengan perintah Allah ta’ala. Tidak ada batasan dalam masalah ini, bisa menyangkut apa saja yang intinya adalah bertolak belakang dengan perintah Allah ta’ala. Sebagai contohnya adalah:

a.     Cinta terhadap harta yang berlebihan

Mencintai harta itu merupakan tabi’at manusia, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla jelaskan dalam firman-Nya:

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا ﴿١﴾ فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا ﴿٢﴾ فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا ﴿٣﴾ فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا ﴿٤﴾ فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا ﴿٥﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿٦﴾ وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿٧﴾ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ[19]

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, Maka ia menerbangkan debu, Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.(Al-‘Adiyaat:1-8)”.

Juga berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا[20]

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.(Al-Fajr:20)”

Sesungguhnya kecintaan seseorang terhadap harta tidak berpengaruh terhadap akidahnya juga tidak berpengaruh terhadap agamanya, selama kecintaan itu tidak menyebabkan dia lalai dari kewajiban atau hal-hal yang disunatkan. Jika kecintaannya terhadap harta menyibukkan dia dan menyebabkannya melalaikan sesuatu yang wajib atasnya, maka kesibukannya terhadap harta kala itu menjadi haram. Jika kesibukan terhadap harta menyibukkannya dari sesuatu yang bersifat mustahab (sunnah), maka hendaklah kita menyadari bahwa menyibukkan diri dengan sesuatu yang mustahab lebih utama daripada menyibukkan diri terhadap harta. Dan (harus diingat pula) bahwa pengelolaan seseorang terhadap harta (yang dia miliki) harus sesuai dengan syari’at Islam. Dia tidak boleh melakukan mu’amalah (transaksi) apapun juga yang mengandung unsur kezhaliman, riba atau penipuan. Dia tidak boleh mengaku-ngaku sesuatu yang bukan haknya dan juga tidak boleh mengingkari apa yang menjadi kewajibannya.

Namun jika kecintaan seseorang terhadap harta itu dengan tujuan mengembangkan harta itu agar bisa melakukan amal shalih, maka kecintaannya itu menjadi baik, karena sesungguhnya harta itu menjadi baik ketika berada pada tangan orang yang shalih. Betapa banyak orang yang Allâh Azza wa Jalla anugerahi kekayaan kepada mereka lalu harta mereka itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla , penyebaran ilmu, menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan dan dalam berbagai perbuatan baik lainnya.

b.    Cintanya 2 orang muda mudi yang tidak dibingkai dalam ikatan yang sah

Hidup dijaman sekarang ini, tidak asing bagi kita melihat muda mudi berboncengan kesana kemari, menampakkan kemesraan didepan umum, dan lain sebagainya, yang mana orang-orang menyebutnya “pacaran”. Ini merupakan budaya orang non muslim yang di impor ke negara ini dan diajarkan ke remaja-remaja kaum muslimin melalui berbagai media seperti televisi, dan lain sebagainya. Sehingga hal itu menjadi budaya dan dianggap oleh masyarakat luas sebagai sesuatu yang lumrah.

Padahal apabila kita menilai hal itu dengan kacamata islam, maka perbuatan itu merupakan larangan didalam agama. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا[21]

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, karena itu adal perbuatan keji dan seburuk buruknya jalan.(Qs.al isra’:32)”

          Sebagian orang beralasan bahwa ia berpacaran agar bisa saling mengenal sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan. Akan tetapi faktanya menunjukkan hal yang berkebalikan. Banyak kasus hamil di luar pernikahan, banyaknya praktek aborsi, banyaknya kasus pembuangan bayi yang tidak berdosa, yang ditengarai disebabkan hubungan cinta kasih antar lawan jenis diluar pernikahan.

          Dan agama islam sendiri sudah memberi solusi kepada para calon pengantin untuk saling berkenalan, yaitu dengan cara ta’aruf. Yang mana hal itu lebih menyelamatkan kedua belah pihak dari hal-hal yang dikhawatirkan.

          Itulah bentuk-bentuk cinta. Sesungguhnya pembahasan diatas merupakan contoh kecil dari cinta yang cintai Allah ta’ala ataupun yang dimurkai Allah ta’ala. Masih banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa ditulis semuanya disini. Kuncinya adalah kita harus mengetahui bahwa “cinta” merupakah bentuk ibadah kepada Allah ta’ala. Dan kita dilarang mencintai segala sesuatu kecuali didasari kecintaan kepada Allah ta’ala.

 

BAB III

PENUTUPAN

3.1 kesimpulan

          Dari pemaparan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan sebagai berikut:

a.     cinta kasih adalah perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

b.    Cinta terbagi menjadi 2, yaitu cinta yang diridhai Allah ta’ala, dan cinta yang dimurkai Allah ta’ala.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

·       Al Qur’an

·       Muhammad bin idris asy syafi’i, ar-risalah, mesir: maktabah al-halabi, 1940 m.

·       Muslim bin hajjaj al qushairi, shahih muslim, beirut:dar ihya’ at-turats al arobi.

·       Muhammad bin ismail al bukhari, sahih bukhari, dar thouq an-najah, 1422 H.

·       Muhammad bin isa at-tirmidzi, sunan at-tirmidzi, mesir:maktabah musthafa al-babi al-halabi, 1975 m.

·       Kbbi

·       Widyo nugroho achmad muchji, ilmu budaya dasar, jakarta:gunadarma.

·       http://pengertianahli.id/2014/09/pengertian-cinta-menurut-para-ahli.html#



[1] Al Qur’an, 2:30

 

[2] Kbbi, 288.

[3] Ibid, 646.

[4] http://pengertianahli.id/2014/09/pengertian-cinta-menurut-para-ahli.html#

[5] ibid

[6]  ibid

[7]  Widyo nugroho achmad muchji, ilmu budaya dasar( jakarta: gunadarma), 56

[8]  Al Qu’an, 16:89

[9]  Al Qur’an, 6:38

[10] Muhammad bin idris asy syafi’i, ar-risalah(mesir: maktabah al-halabi,1940 m),1/85

[11]  Muslim bin hajjaj al qushairi, shahih muslim(beirut:dar ihya’ atturats al arobi,t.th),1/233

[12]  Al Qur’an, 3:31

[13] Muhammad bin ismail al bukhari, sahih bukhari(t.t,dat thouq an-najah, 1422 H),1/12

[14] Al Qur’an, 9:24

[15] Al Qur’an, 9:71

[16] Muhammad bin ismail al bukhari, sahih bukhari(t.t,dat thouq an-najah, 1422 H),1/12

 

[17]  Muhammad bin isa at-tirmidzi, sunan at-tirmidzi(mesir:maktabah musthafa al-babi al-halabi,1975 m), 4/659

[18] Al Qur’an, 33:58

[19] Al Qur’an, 100:1-8

[20] Ibid, 89:20

[21]  Al Qur’an, 17:32

Itulah contoh makalah isbd (ilmu sosial budaya dasar) tentang cinta kasih. Semoga bermanfaat, terutama bagi yang sedang menyusun makalah serupa, semoga bisa menjadi perbandingan maupun percontohan. Selamat belajar

Posting Komentar untuk "Makalah ISBD Tentang Cinta Kasih"